Rabu, 02 April 2014

Petik Ungu : Hai dan Hallo

05.14 Posted by Ilham Setiawan No comments
            Kalau saja tisa ngak sakit berminggu – minggu tasya ngak mungkin bernasip seperti
ini. Wawancara tampa tisa dan sendirian itu sama saja bunuh diri. Tasya masih berfikir
sambil meminum sebotol pocari sweet. Dia datang ke lapangan futsal atau ngak. Tasya celingukan bak orang gila di siang bolong. Masih bingung mau masuk atau ngak.
            Penantian dan kegalauan ini hanya untuk mewawancarai seorang Ferdi supanji. Seorang kapten futsal dari SMA 07. Yang tasya ketahui dari si Ferdi ini Cuma si keren pemain futsal yang namanya melejit bulan – bulan ini karena telah menjadi juara. Dan itu hanya secuil Pesan dari tisa. Menyedihkan...
            Kalau ngak karena tugas dari Gilang pradita. Tasya ngak akan kayak gini. Dari pada kena Damprat si Derma yang sok itu mending Tasya masuk aja ke lapangan futsal. hanya kata wow yang ada di fikiran Tasya. Katanya hari ini hanya pertandingan latihan. Tapi penontonya banyak nya minta ampun. Dan yang bikin risihnya lagi mayoritas penontonya itu cewek. Semuanya mengelu – elukan nama Ferdi.... ferdi.... .
            Oh.. jadi itu yang namanya ferdi. Tasya melihat pemain dengan nomer punggung 12 yang bertuliskan FRD. Histeria cewek ini aneh banget. Tasya kira ferdi itu cowok yang kayak gimana. Ternyata biasa aja. Memang wajahnya kece tapi masih standart lah. Semakin marahnya para fans ferdi ini ketika Ferdi dikasari salah seorang pemain lawan. Dan jeritan pun memuncak ketika ferdi menjebol gawang lawan.
            Akhirnya pertandingan selesai dan sekaranglah saatnya meminta Ferdi untuk di wawancarai. Tasya memberanikan diri walaupun agak bete. Karena Tasya tidak terbiasa mewawancarai seseorang di outdoor kayak gini. Tidak disangka Ferdi yang selesai bermain futsal langsung menghampiri Tasya. Banyak sekali rumunan cewek – cewek gaje yang meminta perhatian dari Ferdi. “Hai... ini Tasya kan? Kemarin Tisa ngirim foto elo ke gue. Katanya mau wawancara kan?” sialan si Tisa. Giliran Ferdi aja di kirim foto.
            Dalam wawancaranya. Tasya melihat Ferdi sebagai sosok seorang cowok yang lumayan keren lah. Dia walaupun playboy tapi juga baik. Dan dia sudah berfikir dewasa. Dan asik buat diajak ngobrol. Tasya teringat sosok doni yang merupakan cinta pertamanya.
            “oh ya makasih dah mau meluangkan waktu untuk wawancara ini” ujar tasya ke doni dengan membungkuk kan badan sebagai rasa hormat. “Alah biasa aja lagi. Aku harusnya yag berterima kasih bisa diwawancarai oleh cewek secantik kamu. Walaupun ngak sama tisa sih..” Ucapan gombal ala playboy cap kadal keluar juga. Setelah itu kita saling tukeran pin BB.
-***-

            Hari ini Tisa sembuh dan berangkat sekolah. Dan hari ini juga hari dimana laporan harus di kumpulkan di ruang redaksi. Tasya memang ngak satu kelas dengan tisa. Tapi mereka selalu ke kantin bareng. Karena Tisa itu adalah teman pertama dan satu – satunya sejak pindah dari kalimantan karena urusan pekerjaan.
            “Sorry ya Tas kemari aku ngak bisa nemenin kamu..” Ucap tisa dengan wajah manyun yang dibuat – buat. “oh ya ngak papa kok...”. “Sebagai permintaan maaf gue. Gue traktir elo makan nasi goreng nanti sore di tempat biasa mau ngak?”. “Oke,,,” wajah girang tasya keluar ketika tisa mengutarakan kata NASI GORENG. “Oh ya ngomong – ngomong gimana pendapat lo tentang ferdi?” ucap tisa dengan memutar - mutar lemon tea yang baru dipesenya. “ya... dia keren, ganteng. Atletis, tinggi, enak diajak ngomong.” Itulah memang pendapat tasya dari seorang ferdi. “Oh ya ferdi nanyain kamu muluk tis. Kenapa emang?” tasya mulai KEPOnya. “Ya ferdi memang suka sama gue tapi. Gue tolak aja.” Oh ya tasya lupa bahwa dia berteman dengan cewek yang super terkenal dengan kecantikanya ini.
            “Em... nanti temenin gue ya ke ruang redaksi buat ngumpulin hasil laporan”. “Oke. Mending cepet – cepet deh. Kalau Gilang pradita bisa tau wah jadi marah besar dia”. “Emang dia bisa marah?” tanya tasya karena memang tasya baru kenal. “Ih... Ampun dah kalau marah”. “Oh ya aku tunggu di kantin ya sepulang sekolah. Aku mau ngerjain pr dulu ke kelas.” Ucap Tisa yang pamit mau ke kelas duluan. Setelah itu Tasya yang duduk sendirian pun juga mau ke kelas juga.
            Seiring perjalanan kelas dia melihat mading sekolah. Dia masih ingat pertama kali dia lihat mading ini saat baru pindah dari Kalimantan. Dan satu hal yang masih menganjal dalam fikiran Tasya adalah siapa penulis yang memakai inisial Petik ungu itu. Tulisanya begitu bagus dan mengagumkan. Ada jiwa di dalam kertas yang seolah – olah bercerita. Walaupun hanya cerita dongeng fiksi anak – anak . tapi begitu menyentuh dan menarik.
-o_o-
            Jam pelajaran usai. Dan tasya menuju kantin tempat dia janjian dengan tasya. Sesamapinya di kantin dia melihat Ferdi yang berbicara agak keras dengan tisa. Tasya berhenti karena tidak ingin mencampuri urusan mereka. “Seharusnya kamu beri aku kesempatan lah Tis..” mohon ferdi dengan membawa karangan bunga. Tapi Tisa mencampak kan nya begitu aja. “Hai... Cewek yang udah ngak nganggep aku sebagai sahabat.....” Ucap ferdi dengan nada yang nyebelin banget. Tapi tetep Tisa ngak ngerespon apapun dari yang di lontarkan kepadanya, dia hanya sibuk bermain gadgetnya. “Oke .. oke... ini buat kamu.” Nada Ferdi yang meninggi dengan menggebrak kan bunga itu tepat di meja tempat Tisa duduk.
            Setelah ferdi yang sudah putus asa meninggalkan Tisa. Tasya pun datang seperti tidak ada apa – apa. “ Yuk ke ruang redaksi tis” ajak tasya yang menarik tangan tisa. Tisa hanya tersenyum dan menangguk. Mereka berdua berjalan ke ruang redaksi. Sepanjang jalan Tisa selalu diam dan selalu Tasya yang memulai pembicaraan. Mungkin dia lagi ada banyak masalah.
            “Hai semua ....” ucap tisa saat masuk ruang redaksi yang sudah penuh dengan penghuni – penghuni nya. “Ah.. lama amat baru datang....” ucap Gilang pradita. “Sorry – sorry tadi bareng sama tasya” jawab tisa sambil menyenggol tasya. Tasya masih canggung aja padahal ini bukan pertama kalinya dia masuk ruang redaksi. “Oh ya tasya belum berkenalan ya dengan yang lain kan?” ucap Gilang pradita. Tasya hanya mengangguk. “Oke temen – temen kita kedatangan temen baru. Dan sudah menyelesaikan tugan wawancaranya. Namanya Tasya kumala. Dia pindahan dari Kalimantan”.
            “Hai semua.....” sapa tasya yang masih malu – malu. Dan Gilang pradita mulai memperkenalkan yang lainya. “Kita mempunyai sedikit anggota tapi lumayan lah. Oke yang pertama Tisa dia itu model sekaligus tukang cari narasumber dan tukang introgasi” tisa sambil senyum dan melambaikan tanganya pada tasya. Wajarlah model dia yang paling cantik di sini, fikir tasya. “oke yang disana ada luna sama johan mereka berdua tukang ngeramein tulisan aja. Alias design layout biar menarik” luna dan johon senyum ke tasya dan tasya melempar senyum balik kepada mereka. “Dan yang itu.... Juna. Ah lewati aja lah. Males” juna yang ngupil merespon pandangan jijik tasya. “Dan saya sendiri Gilang pradita. Ketua redaksi majalah sekolah. Saya yang mengatur editor dan publikasi tapi saya bisa merangkap apa aja.” Ucap Gilang pradita sambil cengar – cengir. “Sombongnya.....” respot tisa yang selal berlebihan kalau dengan Gilang pradita.
            Seperti biasa ruang redaksi membentuk huruf U. Yang tempat duduknya. Paling pojok itu Tisa, terus Juna, kursi kosong di samping juna, luna dan johan dan yang di depan tengah itu Gilang pradita. Sebenernya pengen deket sama Tisa tapi terpaksa harus duduk di samping juna. Agak risih dengan kelakuanya yang super duper jorok. Bahkan dia ngupil dengan dua jari sekaligus. “hai... alasanmu gabung apa tas?” tanya luna dengan keramahanya yang hangat banget. “Pengen ngembangin hobi dan berlatih nulis aja sih..” jawab tasya ke luna. Sebenernya dalam hati tasya masih mengharapkan untuk mengungkap rahasia penulis petik ungu itu siapa.
            Yang ada di fikiran tasya si petik ungu itu si Gilang pradita. Karena dia ketua plus laki – laki yang bisa nulis di redaksi ini. Tapi kok tasya masih ragu dengan spekulasinya itu. Dan kemungkinan  kedua masak orang itu. Tasya melirik ke arah juna. Kalau cowok idaman cewek itu tampan, keren, pinter, baik, nyaman , rapi dan karismatik. Tapi kelihatanya dia ngak memilki itu semua.
                Keheningan itu dipecah oleh Gilang pradita “Oke temen – temen kita mau buat edisi pertama tahun ini. Kita angkat tema budaya semarang. Dan saya bagi tim 2 orang. Yang pertama luna dan johan. Buat tampilan nya biar keren sepeti biasa. Dan tim kedua buat isi dan wawancara. Tasya dan.... juna. Kalian harus berkerja sama”. What..? tasya kaget setengah mati mendengar hal itu. Dan harus berkerja sama dengan “dia”. Lirik tasya ke juna. “Wah... jangan bilang gue se tim sama lu ” ketus tisa. Jarang jarang melihat tisa seperti itu. “yup bener sekali loe sama gue buat editing dan ngurus sisanya.” Ucap tegas Gilang pradita menatap dengan senyum kecil kepada Tisa. Terlihat Tisa tidak begitu menyukainya.
            “Ini adalah edisi pertama.kita akan mengambil topik tentang budaya kota sama keseharian dan hot news di sekolah” Penjelasan gilang pradita. “Dan tugas kalian” gilang pradita menunjuk tasya dan juna. “Mewawancarai fuad rezambi yang besok berkunjung ke semarang”. “haa... fuad rezambi. Aku ngak kenal dan walaupun dia seniman terkenal aku ngak tau apa – apa soal beliau.” Protes tasya. “Tenang. Juna yang ngurus itu semua. Dia kenal kok sama beliau”. “Oh....” tasya yang lega mendengar penjelasan dari gilang pradita itu.
            Setelah penjelasan tentang edisi pertama itu. Ruang redaksi menjadi agak aneh. Atau memang seperti ini ya. Yang pertama, Tisa agak sedih hari ini jadi dia diem aja. Terus, Seperti biasa luna dan johan selalu membahas dan memperdebatkan tentang karya masing – masing. gilang pradita dan juna, Ah jijik ngeliatnya. Dan aku memutuskan buat izin sama Tisa buat pulang cepet.
            Tasya agak kawatir dengan apa yang dirasakan tisa sekarang. Dia agak diam dan murung,tidak seperti bisanya. “Hai... katanya mau mentraktir aku nasi goreng....?” Ucap tasya dengan menarik pipinya. “Oh iya ya... Yuk kita berangkat ke resto” Jawab tisa dengan tersenyum. Tasya agak lega melihat sahabatnya itu tidak sedih meluluk. Tasya dibonceng tisa dengan motor metic birunya. Menuju ke resto milik keluarganya.
O-_-
            Sesampainya di resto tasya tertegun. Ternyata ini lebih dari bagus. Atau lebih tepatnya mewah. Ternyata Tisa dulu sedikit berbohong bilang bahwa restonya itu adalah sebuah rumah makan kecil biasa. “Yuk masuk...” Tisa yang kembali ceria karena seperti kembali ke rumah. “Mah ini temenku namanya Tasya.” Ujar tisa menemui wanita setengah baya dengan memakai kebaya tradisional. “wah.. temenya Tisa ya. Jarang – jarang lho temenya tisa mampir kemari....” Ibunya tisa masih terlihat cantik dan ramah walaupun usianya mungkin diatas kepala empat. Tasya hanya merespon dengan senyuman . “Oh ya kamu mau makan apa?”. “Ini lho mah.. aku kemarin janji neraktir nasi goreng mah. Hehehehe” jawab tasya kepada ibunya. “Oh.. Disini nasi gorengnya spesial lho. Kamu pasti suka... tunggu ya.”Ibunya tasya bilang kepada pelayan resto untuk menyiapkan pesanan.
            “Aduh jadi ngerepotin nih Tis” Tasya yang agak cangung dan malu kepada keluarga tisa. “Ah.. ngak papa daripada makan diluar mending disini aja.bener ngak?” Wah.. Tisa jarang sekali se ceria ini. “Nah ini nasi gorengnya dek Tasya. Sama makan siang buat kamu tisa.” Tisa yang agak kaget karena ternyata Tisa yang cantik,manis,sopan dan anggunitu suka makan petai. “Wah.. makasih ya tante. Jadi ngerepotin” Respon Tasya kepada ibunya tisa. “Ah.. ngak papa. Lanjutin makanya tante mau ngelayanin pelanggan”. “Oh ya maaf ya aku memang dari kecil suka banget makan petai” Ucap Tasya sambil makan sambal petai dan ayam goreng kesukaanya.
            Mereka berdua makan dengan lahapnya karena memang itu makanan favorite mereka berdua. Setelah makan selesai Tasya menyinggung masalah tisa tentang tadi siang di kantin. Wajah tisa pun kembali menjadi kecut. “Kalau ngak mau jawab ngak papa kok”. Suasana mulai hening. Walaupun banyak sekali pengunjung lain tapi rasanya diantara mereka berdua masih ada kecanggungan. Aku merasa ngak enak. Apakah aku dapat percaya sama tasya. Aku sudah menanggap dia sebagai seorang sahabat dan begitu pula sebaliknya, Batin tisa.
            Kecanggungan itupun pecah disaat Tisa memulai pembicaraan. “Yah... sebenernya ferdi itu temen ku sejak SD. Dan aku menganggap dia sebagai sebatas teman. Dulu dia itu orangnya payah dalam hal apapun. Melakukan apapun. Dan aku menceramahi dia saat SMP. Lalu dia berniat untuk merubah dirinya dengan berlatih futsal tampa henti sampai sekarang”. Jelas Tisa kepada tasya dengan ngak enak. “Dia sudah menyimpan perasaan cintanya sejak SMP tapi aku tidak mencintai dia. Hanya saja ferdi yang kekeh aku harus menerima cintanya”. Tasya kini tau kenapa Tisa sebegitunya dengan Ferdi.
            “Maaf ya gue kepo banget. Tapi gue sangat kawatir kali aja,gue bisa bantu. Tapi... kenapa ngak kamu jelasin ke Ferdi apa yang elo mau aja”. “Gue takut tas. Kalau lihat matanya gue takut. Ngak tau kenapa gue ngerasa takut aja” Tisa yang frustasi sampai mengaruk – garuk kepalanya. “ Tapi ngak selamanya akan seperti itu kan Tis. Lo juga ngak selamanya ngumpet. Dan harus menghadapi Ferdi mau ngak mau”. “Ya juga ya... Tapi.. tapi...” Air mata pun menetes dari wajah manis tisa. Seraya tasya Mengusap - usap rambutnya. Dan menenangkanya.
            Setelah semuanya selesai dan tangisan tisa pun juga selesai. tasya keluar dari ruangan dia makan. Karena restonya itu berbentuk sekat. Saat mau keluar. Tasya melihat cowok yang kelihatanya dia kenal dengan seorang cewek. “Hai....” Ucap Tisa sambil melambaikan tangan. “Hei. Dia emang siapa? Kamu kenal mereka?” tasya bertanya dengan berbisik – bisik kepada tisa. “Lho Masak lo ngak kenal dia itu juna tau”. “Dia juna?” Tasya yang kaget setengah mati melihat juna yang seperti ini. Sangat rapi. Sangat bersih dan ternyata,dia keren dan ganteng juga.
            Tasya dan tisa menghampiri Juna dan cewek yang bersamanya. “Hai juna...” Sapa tisa dengan ramahnya. “Wah kesamber gledek apa nih gue disapa tisa kayak gitu.” Jawaban sengak Juna pun keluar. Memang Tisa kalau di sekolah sangat jengkel dengan ulah jorok juna. Dari ngupil, Baju ngak rapi, acak – acakan lah semuanya. “Ye.... Songong lu. Eh dia siapa nih” Tisa melihat cewek itu dari atas sampe bawah. Gila walaupun dia pendek tapi dia memiliki kelebihan dari penampilan wanita. “Oh ini sepupu gue namanya cindy. Dia dari jakarta. Dan hari ini dia mau nginep dirumah gue”. Mata nakal juna melirik cindy.
            “Ehmm.. Ehm...” Tasya yang merasa diabaikan pun ambil suara. “Eh.. gimana besok wawancaranya?”. “Eh.. Mata lu kenapa itu tis sembab. Habis nangisin gue pasti” respon lain juna ang malah mengabaikan tasya. “Oh ngak papa kok” Jawab tisa. Tasya yang jengkel langsung berjalan keluar dari resto. “Eh tas tunggu ... Bye jun” Tisa yang mengejar Tasya yang memang terlihat kesal.  
                “Hai.. Hai Mau ku anter?” Tisa menahan langkah Tasya. “Ngak usah aku naik taksi aja lagian aku mau ke suatu tempat dulu kok”. BERSAMBUNG

                

Minggu, 16 Maret 2014

Petik Ungu

04.04 Posted by Ilham Setiawan No comments
Aku Bingung. Dan Masih Bingung
Kenapa aku bisa mencintai cowok sepeti kamu
Lebih dari tulisanmu
Walaupun dari awal aku hanya menggagumimu
Seorang penulis misterius dengan petik Ungumu
Seorang Penulis yang memiliki Wawasan seluas Samudra
Dengan tulisan yang membuat aku terhipnotis.

Aku bingung. Kenapa aku bisa seperti ini
Hanya karena tulisanmu aku mengarah mendekatimu
Perasaanku aneh
Hatiku jadi aneh
Aku kadang tak habis pikir dan ketawa sendiri
kamu jauh dari laki - laki yang ku harapkan
tapi semakin aku menolak perasaan ini
semakin aku mencintaimu

Hanya Berawal Dari "PETIK UNGU"


KE CERPEN Silahkan Klik Disini