Kalau saja tisa ngak sakit
berminggu – minggu tasya ngak mungkin bernasip seperti
ini. Wawancara tampa tisa dan sendirian itu sama saja bunuh diri. Tasya masih berfikir
sambil meminum sebotol pocari sweet. Dia datang ke lapangan futsal atau ngak. Tasya celingukan bak orang gila di siang bolong. Masih bingung mau masuk atau ngak.
ini. Wawancara tampa tisa dan sendirian itu sama saja bunuh diri. Tasya masih berfikir
sambil meminum sebotol pocari sweet. Dia datang ke lapangan futsal atau ngak. Tasya celingukan bak orang gila di siang bolong. Masih bingung mau masuk atau ngak.
Penantian
dan kegalauan ini hanya untuk mewawancarai seorang Ferdi supanji. Seorang
kapten futsal dari SMA 07. Yang tasya ketahui dari si Ferdi ini Cuma si keren
pemain futsal yang namanya melejit bulan – bulan ini karena telah menjadi
juara. Dan itu hanya secuil Pesan dari tisa. Menyedihkan...
Kalau
ngak karena tugas dari Gilang pradita. Tasya ngak akan kayak gini. Dari pada
kena Damprat si Derma yang sok itu mending Tasya masuk aja ke lapangan futsal.
hanya kata wow yang ada di fikiran Tasya. Katanya hari ini hanya pertandingan
latihan. Tapi penontonya banyak nya minta ampun. Dan yang bikin risihnya lagi
mayoritas penontonya itu cewek. Semuanya mengelu – elukan nama Ferdi....
ferdi.... .
Oh..
jadi itu yang namanya ferdi. Tasya melihat pemain dengan nomer punggung 12 yang
bertuliskan FRD. Histeria cewek ini aneh banget. Tasya kira ferdi itu cowok
yang kayak gimana. Ternyata biasa aja. Memang wajahnya kece tapi masih standart
lah. Semakin marahnya para fans ferdi ini ketika Ferdi dikasari salah seorang
pemain lawan. Dan jeritan pun memuncak ketika ferdi menjebol gawang lawan.
Akhirnya
pertandingan selesai dan sekaranglah saatnya meminta Ferdi untuk di wawancarai.
Tasya memberanikan diri walaupun agak bete. Karena Tasya tidak terbiasa
mewawancarai seseorang di outdoor kayak gini. Tidak disangka Ferdi yang selesai
bermain futsal langsung menghampiri Tasya. Banyak sekali rumunan cewek – cewek
gaje yang meminta perhatian dari Ferdi. “Hai... ini Tasya kan? Kemarin Tisa
ngirim foto elo ke gue. Katanya mau wawancara kan?” sialan si Tisa. Giliran
Ferdi aja di kirim foto.
Dalam
wawancaranya. Tasya melihat Ferdi sebagai sosok seorang cowok yang lumayan
keren lah. Dia walaupun playboy tapi juga baik. Dan dia sudah berfikir dewasa.
Dan asik buat diajak ngobrol. Tasya teringat sosok doni yang merupakan cinta
pertamanya.
“oh
ya makasih dah mau meluangkan waktu untuk wawancara ini” ujar tasya ke doni
dengan membungkuk kan badan sebagai rasa hormat. “Alah biasa aja lagi. Aku
harusnya yag berterima kasih bisa diwawancarai oleh cewek secantik kamu.
Walaupun ngak sama tisa sih..” Ucapan gombal ala playboy cap kadal keluar juga.
Setelah itu kita saling tukeran pin BB.
-***-
Hari
ini Tisa sembuh dan berangkat sekolah. Dan hari ini juga hari dimana laporan
harus di kumpulkan di ruang redaksi. Tasya memang ngak satu kelas dengan tisa.
Tapi mereka selalu ke kantin bareng. Karena Tisa itu adalah teman pertama dan
satu – satunya sejak pindah dari kalimantan karena urusan pekerjaan.
“Sorry
ya Tas kemari aku ngak bisa nemenin kamu..” Ucap tisa dengan wajah manyun yang
dibuat – buat. “oh ya ngak papa kok...”. “Sebagai permintaan maaf gue. Gue
traktir elo makan nasi goreng nanti sore di tempat biasa mau ngak?”. “Oke,,,”
wajah girang tasya keluar ketika tisa mengutarakan kata NASI GORENG. “Oh ya
ngomong – ngomong gimana pendapat lo tentang ferdi?” ucap tisa dengan memutar -
mutar lemon tea yang baru dipesenya. “ya... dia keren, ganteng. Atletis, tinggi,
enak diajak ngomong.” Itulah memang pendapat tasya dari seorang ferdi. “Oh ya
ferdi nanyain kamu muluk tis. Kenapa emang?” tasya mulai KEPOnya. “Ya ferdi
memang suka sama gue tapi. Gue tolak aja.” Oh ya tasya lupa bahwa dia berteman
dengan cewek yang super terkenal dengan kecantikanya ini.
“Em...
nanti temenin gue ya ke ruang redaksi buat ngumpulin hasil laporan”. “Oke.
Mending cepet – cepet deh. Kalau Gilang pradita bisa tau wah jadi marah besar
dia”. “Emang dia bisa marah?” tanya tasya karena memang tasya baru kenal.
“Ih... Ampun dah kalau marah”. “Oh ya aku tunggu di kantin ya sepulang sekolah.
Aku mau ngerjain pr dulu ke kelas.” Ucap Tisa yang pamit mau ke kelas duluan.
Setelah itu Tasya yang duduk sendirian pun juga mau ke kelas juga.
Seiring
perjalanan kelas dia melihat mading sekolah. Dia masih ingat pertama kali dia
lihat mading ini saat baru pindah dari Kalimantan. Dan satu hal yang masih
menganjal dalam fikiran Tasya adalah siapa penulis yang memakai inisial Petik
ungu itu. Tulisanya begitu bagus dan mengagumkan. Ada jiwa di dalam kertas yang
seolah – olah bercerita. Walaupun hanya cerita dongeng fiksi anak – anak . tapi
begitu menyentuh dan menarik.
-o_o-
Jam
pelajaran usai. Dan tasya menuju kantin tempat dia janjian dengan tasya.
Sesamapinya di kantin dia melihat Ferdi yang berbicara agak keras dengan tisa.
Tasya berhenti karena tidak ingin mencampuri urusan mereka. “Seharusnya kamu
beri aku kesempatan lah Tis..” mohon ferdi dengan membawa karangan bunga. Tapi
Tisa mencampak kan nya begitu aja. “Hai... Cewek yang udah ngak nganggep aku
sebagai sahabat.....” Ucap ferdi dengan nada yang nyebelin banget. Tapi tetep
Tisa ngak ngerespon apapun dari yang di lontarkan kepadanya, dia hanya sibuk
bermain gadgetnya. “Oke .. oke... ini buat kamu.” Nada Ferdi yang meninggi
dengan menggebrak kan bunga itu tepat di meja tempat Tisa duduk.
Setelah
ferdi yang sudah putus asa meninggalkan Tisa. Tasya pun datang seperti tidak
ada apa – apa. “ Yuk ke ruang redaksi tis” ajak tasya yang menarik tangan tisa.
Tisa hanya tersenyum dan menangguk. Mereka berdua berjalan ke ruang redaksi. Sepanjang
jalan Tisa selalu diam dan selalu Tasya yang memulai pembicaraan. Mungkin dia
lagi ada banyak masalah.
“Hai
semua ....” ucap tisa saat masuk ruang redaksi yang sudah penuh dengan penghuni
– penghuni nya. “Ah.. lama amat baru datang....” ucap Gilang pradita. “Sorry –
sorry tadi bareng sama tasya” jawab tisa sambil menyenggol tasya. Tasya masih
canggung aja padahal ini bukan pertama kalinya dia masuk ruang redaksi. “Oh ya
tasya belum berkenalan ya dengan yang lain kan?” ucap Gilang pradita. Tasya
hanya mengangguk. “Oke temen – temen kita kedatangan temen baru. Dan sudah
menyelesaikan tugan wawancaranya. Namanya Tasya kumala. Dia pindahan dari Kalimantan”.
“Hai
semua.....” sapa tasya yang masih malu – malu. Dan Gilang pradita mulai
memperkenalkan yang lainya. “Kita mempunyai sedikit anggota tapi lumayan lah.
Oke yang pertama Tisa dia itu model sekaligus tukang cari narasumber dan tukang
introgasi” tisa sambil senyum dan melambaikan tanganya pada tasya. Wajarlah
model dia yang paling cantik di sini, fikir tasya. “oke yang disana ada luna
sama johan mereka berdua tukang ngeramein tulisan aja. Alias design layout biar
menarik” luna dan johon senyum ke tasya dan tasya melempar senyum balik kepada
mereka. “Dan yang itu.... Juna. Ah lewati aja lah. Males” juna yang ngupil
merespon pandangan jijik tasya. “Dan saya sendiri Gilang pradita. Ketua redaksi
majalah sekolah. Saya yang mengatur editor dan publikasi tapi saya bisa
merangkap apa aja.” Ucap Gilang pradita sambil cengar – cengir.
“Sombongnya.....” respot tisa yang selal berlebihan kalau dengan Gilang
pradita.
Seperti
biasa ruang redaksi membentuk huruf U. Yang tempat duduknya. Paling pojok itu
Tisa, terus Juna, kursi kosong di samping juna, luna dan johan dan yang di
depan tengah itu Gilang pradita. Sebenernya pengen deket sama Tisa tapi
terpaksa harus duduk di samping juna. Agak risih dengan kelakuanya yang super duper
jorok. Bahkan dia ngupil dengan dua jari sekaligus. “hai... alasanmu gabung apa
tas?” tanya luna dengan keramahanya yang hangat banget. “Pengen ngembangin hobi
dan berlatih nulis aja sih..” jawab tasya ke luna. Sebenernya dalam hati tasya
masih mengharapkan untuk mengungkap rahasia penulis petik ungu itu siapa.
Yang
ada di fikiran tasya si petik ungu itu si Gilang pradita. Karena dia ketua plus laki – laki yang bisa
nulis di redaksi ini. Tapi kok tasya masih ragu dengan spekulasinya itu. Dan
kemungkinan kedua masak orang itu. Tasya
melirik ke arah juna. Kalau cowok idaman cewek itu tampan, keren, pinter, baik,
nyaman , rapi dan karismatik. Tapi kelihatanya dia ngak memilki itu semua.
Keheningan itu dipecah oleh Gilang pradita “Oke temen
– temen kita mau buat edisi pertama tahun ini. Kita angkat tema budaya
semarang. Dan saya bagi tim 2 orang. Yang pertama luna dan johan. Buat tampilan
nya biar keren sepeti biasa. Dan tim kedua buat isi dan wawancara. Tasya
dan.... juna. Kalian harus berkerja sama”. What..? tasya kaget setengah mati
mendengar hal itu. Dan harus berkerja sama dengan “dia”. Lirik tasya ke juna. “Wah...
jangan bilang gue se tim sama lu ” ketus tisa. Jarang jarang melihat tisa
seperti itu. “yup bener sekali loe sama gue buat editing dan ngurus sisanya.”
Ucap tegas Gilang pradita menatap dengan
senyum kecil kepada Tisa. Terlihat Tisa tidak begitu menyukainya.
“Ini
adalah edisi pertama.kita akan mengambil topik tentang budaya kota sama
keseharian dan hot news di sekolah” Penjelasan gilang pradita. “Dan tugas
kalian” gilang pradita menunjuk tasya dan juna. “Mewawancarai fuad rezambi yang
besok berkunjung ke semarang”. “haa... fuad rezambi. Aku ngak kenal dan
walaupun dia seniman terkenal aku ngak tau apa – apa soal beliau.” Protes
tasya. “Tenang. Juna yang ngurus itu semua. Dia kenal kok sama beliau”.
“Oh....” tasya yang lega mendengar penjelasan dari gilang pradita itu.
Setelah
penjelasan tentang edisi pertama itu. Ruang redaksi menjadi agak aneh. Atau
memang seperti ini ya. Yang pertama, Tisa agak sedih hari ini jadi dia diem
aja. Terus, Seperti biasa luna dan johan selalu membahas dan memperdebatkan
tentang karya masing – masing. gilang pradita dan juna, Ah jijik ngeliatnya.
Dan aku memutuskan buat izin sama Tisa buat pulang cepet.
Tasya
agak kawatir dengan apa yang dirasakan tisa sekarang. Dia agak diam dan murung,tidak
seperti bisanya. “Hai... katanya mau mentraktir aku nasi goreng....?” Ucap
tasya dengan menarik pipinya. “Oh iya ya... Yuk kita berangkat ke resto” Jawab
tisa dengan tersenyum. Tasya agak lega melihat sahabatnya itu tidak sedih
meluluk. Tasya dibonceng tisa dengan motor metic birunya. Menuju ke resto milik
keluarganya.
O-_-
Sesampainya
di resto tasya tertegun. Ternyata ini lebih dari bagus. Atau lebih tepatnya
mewah. Ternyata Tisa dulu sedikit berbohong bilang bahwa restonya itu adalah
sebuah rumah makan kecil biasa. “Yuk masuk...” Tisa yang kembali ceria karena
seperti kembali ke rumah. “Mah ini temenku namanya Tasya.” Ujar tisa menemui
wanita setengah baya dengan memakai kebaya tradisional. “wah.. temenya Tisa ya.
Jarang – jarang lho temenya tisa mampir kemari....” Ibunya tisa masih terlihat
cantik dan ramah walaupun usianya mungkin diatas kepala empat. Tasya hanya
merespon dengan senyuman . “Oh ya kamu mau makan apa?”. “Ini lho mah.. aku
kemarin janji neraktir nasi goreng mah. Hehehehe” jawab tasya kepada ibunya.
“Oh.. Disini nasi gorengnya spesial lho. Kamu pasti suka... tunggu ya.”Ibunya
tasya bilang kepada pelayan resto untuk menyiapkan pesanan.
“Aduh
jadi ngerepotin nih Tis” Tasya yang agak cangung dan malu kepada keluarga tisa.
“Ah.. ngak papa daripada makan diluar mending disini aja.bener ngak?” Wah..
Tisa jarang sekali se ceria ini. “Nah ini nasi gorengnya dek Tasya. Sama makan
siang buat kamu tisa.” Tisa yang agak kaget karena ternyata Tisa yang
cantik,manis,sopan dan anggunitu suka makan petai. “Wah.. makasih ya tante.
Jadi ngerepotin” Respon Tasya kepada ibunya tisa. “Ah.. ngak papa. Lanjutin
makanya tante mau ngelayanin pelanggan”. “Oh ya maaf ya aku memang dari kecil
suka banget makan petai” Ucap Tasya sambil makan sambal petai dan ayam goreng
kesukaanya.
Mereka
berdua makan dengan lahapnya karena memang itu makanan favorite mereka berdua.
Setelah makan selesai Tasya menyinggung masalah tisa tentang tadi siang di
kantin. Wajah tisa pun kembali menjadi kecut. “Kalau ngak mau jawab ngak papa
kok”. Suasana mulai hening. Walaupun banyak sekali pengunjung lain tapi rasanya
diantara mereka berdua masih ada kecanggungan. Aku merasa ngak enak. Apakah aku
dapat percaya sama tasya. Aku sudah menanggap dia sebagai seorang sahabat dan
begitu pula sebaliknya, Batin tisa.
Kecanggungan
itupun pecah disaat Tisa memulai pembicaraan. “Yah... sebenernya ferdi itu
temen ku sejak SD. Dan aku menganggap dia sebagai sebatas teman. Dulu dia itu
orangnya payah dalam hal apapun. Melakukan apapun. Dan aku menceramahi dia saat
SMP. Lalu dia berniat untuk merubah dirinya dengan berlatih futsal tampa henti
sampai sekarang”. Jelas Tisa kepada tasya dengan ngak enak. “Dia sudah menyimpan
perasaan cintanya sejak SMP tapi aku tidak mencintai dia. Hanya saja ferdi yang
kekeh aku harus menerima cintanya”. Tasya kini tau kenapa Tisa sebegitunya
dengan Ferdi.
“Maaf
ya gue kepo banget. Tapi gue sangat kawatir kali aja,gue bisa bantu. Tapi...
kenapa ngak kamu jelasin ke Ferdi apa yang elo mau aja”. “Gue takut tas. Kalau
lihat matanya gue takut. Ngak tau kenapa gue ngerasa takut aja” Tisa yang
frustasi sampai mengaruk – garuk kepalanya. “ Tapi ngak selamanya akan seperti
itu kan Tis. Lo juga ngak selamanya ngumpet. Dan harus menghadapi Ferdi mau
ngak mau”. “Ya juga ya... Tapi.. tapi...” Air mata pun menetes dari wajah manis
tisa. Seraya tasya Mengusap - usap rambutnya. Dan menenangkanya.
Setelah
semuanya selesai dan tangisan tisa pun juga selesai. tasya keluar dari ruangan
dia makan. Karena restonya itu berbentuk sekat. Saat mau keluar. Tasya melihat
cowok yang kelihatanya dia kenal dengan seorang cewek. “Hai....” Ucap Tisa
sambil melambaikan tangan. “Hei. Dia emang siapa? Kamu kenal mereka?” tasya
bertanya dengan berbisik – bisik kepada tisa. “Lho Masak lo ngak kenal dia itu
juna tau”. “Dia juna?” Tasya yang kaget setengah mati melihat juna yang seperti
ini. Sangat rapi. Sangat bersih dan ternyata,dia keren dan ganteng juga.
Tasya
dan tisa menghampiri Juna dan cewek yang bersamanya. “Hai juna...” Sapa tisa
dengan ramahnya. “Wah kesamber gledek apa nih gue disapa tisa kayak gitu.”
Jawaban sengak Juna pun keluar. Memang Tisa kalau di sekolah sangat jengkel
dengan ulah jorok juna. Dari ngupil, Baju ngak rapi, acak – acakan lah
semuanya. “Ye.... Songong lu. Eh dia siapa nih” Tisa melihat cewek itu dari
atas sampe bawah. Gila walaupun dia pendek tapi dia memiliki kelebihan dari
penampilan wanita. “Oh ini sepupu gue namanya cindy. Dia dari jakarta. Dan hari
ini dia mau nginep dirumah gue”. Mata nakal juna melirik cindy.
“Ehmm..
Ehm...” Tasya yang merasa diabaikan pun ambil suara. “Eh.. gimana besok
wawancaranya?”. “Eh.. Mata lu kenapa itu tis sembab. Habis nangisin gue pasti”
respon lain juna ang malah mengabaikan tasya. “Oh ngak papa kok” Jawab tisa.
Tasya yang jengkel langsung berjalan keluar dari resto. “Eh tas tunggu ... Bye
jun” Tisa yang mengejar Tasya yang memang terlihat kesal.
“Hai.. Hai Mau ku anter?” Tisa
menahan langkah Tasya. “Ngak usah aku naik taksi aja lagian aku mau ke suatu
tempat dulu kok”. BERSAMBUNG
0 komentar:
Posting Komentar